Senin, 30 Maret 2020

Yang Mengambil HP Pak Nur adalah ...


Seusai shalat Dhuha, Pak Nur bergegas menemui Bu Wijayati. “Ibu ya, yang mengambil HP-nya Bapak? Kok Ibu senyum-seyum begitu”, tanya Pak Nur. “Tidak ya,..”, jawab Bu Wijayati dengan tetap tersenyum. “Tapi Ibu tahu yang mengambilnya, he he..”, Bu Wijayati menggoda Pak Nur.
“Lho, kok tahu? Ibu kerja sama dengan anak-anak ya? Karena tadi malam, Bapak main HP-nya lama?”, Pak Nur curiga. “Bukan Pak…”, jawab Bu Wijayati datar.

“Begini lho. Tadi ibu mendengar semua interogasi Bapak kepada tiga anak kita. Nah, dari situ, Ibu tahu siapa yang mengambilnya”, kali ini mimik Wijayati tampak lebih serius. “Siapa Bu?”, Tanya Pak Nur. Bu Wijayati mendekat ke Pak Nur. Ia berbisik di telinga Pak Nur.
Agak lama Bu Wijayati berbisik. Mata Pak Nur mulai berbinar. Ia mengangguk-angguk tanda faham dengan penjelasan Bu Wijayati. Kali ini, Pak Nur harus mengakui kepiawaian Bu Wijayati untuk menyelesaikan sebuah persoalan yang ia hadapi. “Terima kasih ya, Bu, sudah membantu Bapak. Alhamdulillaah”, Pak Nur menutup pembicaraan dengan istrinya.
Selanjutnya, Pak Nur memanggil Fathiyyah ke kamarnya. “Maaf ya Kakak, HP Bapak disimpan di mana ya?”, tanyanya dengan nada pelan dan lembut. Tangannya membelai kepala Fathiyyah yang berbalut jilbab. Fathiyyah kaget. “Lho, Bapak kok tahu kalau aku yang mengambil HP?”, tanya Fathiyyah heran.
“Maaf ya Kakak, Bapak tidak ingin berlama-lama. Mohon HP-nya Bapak dikembalikan ya sayang”, Pak Nur memohon. “Siap, Pak!”, jawab Fathiyyah dengan senyum sambil berlari menuju kamarnya. Sebentar kemudian, ia kembali menemui bapaknya. “Ini ya, Pak, HP-nya. Tadi saya simpan di bawah kasur”, katanya dengan datar.
“Mengapa HP-nya Bapak Kau ambil, Kakak?”, tanya Pak Nur. Fathiyyah menjawab, “Tidak saya sambil ya, Pak. Tapi, saya amankan. Habis, Bapak menaruhnya sembarangan sih di meja tamu. Bila ada pencuri masuk rumah kan, HP-nya mudah ditemukan dan diambil”.
 “Oh, begitu ya. Terima kasih ya, Kakak, sudah mengamankan HP-nya Bapak, he he.”, kata pak Nur tanpa ekspresi marah. Perasaan Pak Nur lega sekarang.
‘Oh ya, Pak. Kok Bapak tahu kalau aku yang mengambil HP itu?”, Tanya Fathiyyah ingin tahu. “Ibu yang memberitahu Bapak. Coba Kau tanya Ibu ya”, jawab Pak Nur. “Oh ya. Siap Pak. Terima kasih Bapak”.
Fathiyyah menemui ibunya yang sedang membaca buku di ruang tamu. Ia bertanya bagaimana ibunya bisa mengetahui bila ia yang mengambil HP milik bapak. Ibunya menjelaskan dengan pelan-pelan. Fathiyyah heran dan kagum. “Ibu hebat ya!”, Fathiyyah menyimpulkan.
Bagaimana Bu Wijayati bisa mengetahui Bahwa Kakak Fathiyyah yang mengambil HP Pak Nur? Berikut penjelasan dari Bu Wijayati: Perhatikan percakapan antara Pak Nur dengan Kakak Fathiyyah.
 “Iya, semalam Bapak letakkan di ruang tamu. Terus Bapak ke kamar tidur, lupa tidak dibawa”, kata Pak Nur. “Maaf ya Pak, saya juga tidak tahu. Tadi setelah Shubuh, saat menyapu lantai rumah, saya juga tidak melihat HP Bapak di meja tamu”, lanjut Fathiyyah.
Pak Nur mengatakan meletakkan HP-nya di ruang tamu. Selanjutnya Kakak Fathiyyah mengatakan bahwa ia tidak melihat HP milik bapak di meja tamu. Bagaimana mungkin Kakak Fathiyyah bisa mengetahui bahwa HP Pak Nur diletakkan di meja tamu, padahal Pak Nur hanya mengatakan di ruang tamu.
Jelaslah, bahwa Kakak Fathiyyah pasti mengetahui bahwa HP Pak Nur diletakkan di meja tamu. Maka pasti ia yang mengambil HP itu dari meja tamu. Karena tidak ada seorangpun yang memberitahu padanya, bahwa HP Pak Nur diletakkan di meja tamu.